Pemuda dari Mindretall

Dagny berjalan cepat, separuh wajahnya dililit syal biru tua sementara kedua tangannya mengepal di dalam kantong jaketnya. Rambut keriting berwarna merah darah-nya mengembang tertiup angin di ketinggian lantai kedua belas ini. Mata abu-abunya menonjol terang di antara helai rambutnya, sementara pipinya bersemu merah.

Salju telah berhenti turun, dan dengan tebalnya salju yang terhampar di seluruh Mindretall, semestinya udara jauh lebih hangat daripada saat salju turun atau salju meleleh. Berita soal cuaca yang tidak normal ini diumumkan melalui mikrofon yang terpasang dia atap kotak-kotak dari kayu tempat para penduduk Mindretall tinggal. Suara dari semua pengeras suara ini terpantul di permukaan kotak kayu, lalu terpantul oleh struktur beton yang menopang seisi Mindretall, dan terpantul lagi oleh permukaan kotak kayu.

Bukan kotak kayu yang membuat simfoni ini berisik, tapi struktur beton.

Dan, ya, memang berisik, tapi apa yang bisa ia lakukan?

Tak seperti biasanya, Mindretall sepi. Mindretall, daerah kumuh di megapolitan bernama Flertallet, adalah sarang berkembangnya para kriminal yang terpaksa berbuat kriminal demi kentang atau roti, atau makanan lain yang dapat mengisi perut mereka. Mindretall berkembang dari tanah ke arah langit; tiga puluh lantai yang ditopang beton dan berisi kotak-kotak kayu itu telah berdiri dan terus berkembang selama empat puluh tahun. Para penghuninya bagai monyet yang terus memanjat.

Atau, setidaknya, itu menurut Dagny.

Lantai dua belas, blok V. Nomor “32” dari aluminium dibor di permukaan kayu yang terlihat agak retak.

Dagny melambaikan tangan kirinya, dan, di udara kosong di hadapannya, muncul permukaan dengan susunan angka dan huruf yang acak. Dagny mengetuk angka empat, dua, dan huruf F di ujung-ujung permukaan digital ini. Permukaan itu lalu menyusut menjadi datar di hadapannya seperti sebuah meja, lalu membentuk mesin yang berbentuk lingkaran, yang berputar kencang, meradiasikan panasnya hingga membuat muka Dagny mengeluarkan peluh.

Perempuan itu memasukkan tangan kanannya ke mulut mesin, yang seketika berhenti berputar. Di saat bersamaan, pintu kotak kayunya terbuka.

Sistem keamanan yang bahkan tidak bisa ditembus oleh para pakar teknologi terkemuka kerajaan ini adalah buatan saudara kembarnya.

“Dagny sudah pulang,” sahut sebuah suara pelan dari dalam.

Dagny tersenyum sedih mendengarnya. “Ya, aku sudah pulang. Apa kabar, Brage?”

Pintu kotak kayu tempat tinggal mereka ini tertutup, membuat seisi ruang tanpa jendela ini gelap gulita. Terdengar suara kunci diputar, dan sebuah lampu menyala di tengah ruang ini. Seorang pria berbaring, dengan satu tangannya, yang menggenggam kunci, menunjuk lampu yang baru saja menyala. Rambut merahnya yang ikal telah tumbuh hingga sebatas kupingnya, dengan potongan yang tidak teratur. Mata abu-abunya telah kehilangan semangat hidup yang dulu membara melalui aksi dan kata-katanya.

“Brage berbaring dalam gelap menunggu Dagny pulang.”

Dagny menghampiri saudaranya itu dan menarik pelan tangannya yang tidak memegang apa-apa, lalu menghirup bau tangan itu. Bau oli.

“Oli?”

“Brage membuat sistem baru untuk keamanan Dagny,” jawab pemuda itu dengan nada monoton dan suara berat dan pelan yang sama.

Seperti robot. Dagny menahan tangis.

“Kamu makannya benar?”

“Dengan ini, Dagny tidak perlu mengelilingi Flertallet ratusan kali sebelum naik ke rumah kita.”

Dagny menatap sudut dimana dapur berada. Dua buah piring telah dibilas, panci juga telah dibilas bersih. Dua gelas dan dua cangkir berjajar rapi. Dua sendok, dua garpu, dan dua pisau berkilau bersih. Sebelum ia pergi, ia meninggalkan satu tongkat roti, sepanci sup, dan sepotong daging yang telah dibakar matang. Brage selalu membersihkan peralatan makan mereka dan Dagny tidak pernah merapikan dapur. Jika dapur bersih dan makanan habis, Brage telah makan. Brage tidak akan membuang makanan.

“Brage, apa yang kamu lakukan selama aku tidak ada? Maksudku, selain menciptakan sistem baru untukku.”

“Aku menciptakan tiga lagu baru.”

“Bagaimana kamu menciptakannya?”

“Satu dengan memukul-mukul gelas dengan sendok. Aku tidak memecahkan apa-apa. Dua lainnya kuciptakan sambil bernyanyi.”
Dagny berbaring di sebelah Brage dan memeluknya, sementara Brage tidak bereaksi terhadap aksi saudara perempuannya itu. Rambut, mata, tinggi, dan warna kulit mereka sama. Hidung mereka sedikit berbeda: Dagny agak lebar, sementara Brage lebih runcing. Kedua bibir mereka tipis, namun bibir Dagny lebih tipis daripada Brage.

Dahulu, Brage adalah musisi terbaik Flertallet. Musik dan matematika adalah hal paling alami baginya. Setiap instrumen musik yang dia sentuh akan mengumandangkan melodi yang indah, sementara setiap sistem keamanan yang dia ciptakan akan menjadi sistem terbaik di seantero kerajaan.

Brage dikenal tampan dan supel, dan dia selalu memakai gelang titaniumnya di tangan kirinya. Gelang titanium adalah simplifikasi dari biola kesayangannya, yang tidak pernah terpisah darinya. Hubungan antara Brage dengan biola itu bisa dibilang telah mencapai tahap yang berbahaya. Keduanya terlalu posesif dan obsesif terhadap satu sama lain. Biola itu menjadi bagian tak terpisahkan dari Brage.

Namun, Brage adalah anak yang yatim piatu yang besar di Mindretall. Daerah kumuh dan daerah kriminal. Jika dia makin sukses, maka sistem yang diterapkan sekarang harus dihapuskan. Sistem dimana siapapun yang tidak memiliki pekerjaan tetap dengan gaji di atas enam ribu Krone diharuskan tinggal di Mindretall. Sistem dimana mereka yang hidup berkecukupan menikmati hidup tanpa kriminalitas dan gelandangan. Sistem yang membuat setiap daerah membangun perkampungan Mindretall versi masing-masing.

Maka, mereka mengirim orang untuk membuntuti Brage. Menemukan bar tempat dia biasa bermain. Menangkapnya. Mengambil gelang titaniumnya dengan paksa. Lalu meninggalkan tubuhnya, babak belur, di gerbang masuk Mindretall.

Sejak saat itu, dia menjadi gila. Setengah gila. Kehilangan semangat dan kesadarannya untuk hidup.

“Tapi mereka tidak akan mengejarmu lagi,” gumam Dagny, mengulang kata-kata yang selalu ia ucapkan saat ia pulang dari perjalanan panjang. “Aku bersumpah, mereka tidak akan menemukanmu dan mencurimu dariku.”

“Apa mereka masih mengejarmu?”

“Mereka masih mengejarku tetapi mereka tidak akan mendapatkanmu.”

“Jangan pergi sebelum sistem yang sedang kubuat ini selesai.”

“Tidak, aku tidak akan pergi,” setetes air mata jatuh, dan Dagny menempelkan keningnya di bahu Brage. “Aku tidak mau pergi meninggalkanmu. Kita keluarga, jangan sampai kita terpisah.”

Untuk beberapa saat, yang terdengar hanya isak tangis Dagny.

Brage hanya termenung, sebelum ia membuka mulutnya dan mulai bernyanyi. Musik yang ia karang di kala saudaranya absen.
Suara lembut Brage membuat Dagny semakin terisak. Tekstur nada-nada ini membawanya kembali ke Bar Død Soldat satu tahun sebelumnya. Emosi musik ini sama hangatnya dengan lagu yang Brage mainkan di piano sambil bernyanyi, sementara orang-orang di sekitar mereka menikmati musik ini dalam diam dan dengan senyum, segelas besar bir di tangan mereka, siap untuk bersulang begitu pria ini menyelesaikan permainannya.

Sebelum Brage menyelesaikan permainan tersebut, Dagny dipanggil keluar. Ada tugas baru untuknya, malam itu juga. Ia tidak sempat pamit pada Brage, dan hal itu adalah kesalahan terbesar yang masih menghantuinya hingga sekarang.

Jika ia tinggal hingga Brage selesai bermain, mungkin ia bisa menyelamatkan Brage. Atau, jika ia tidak sanggup menyelamatkannya, ia tidak akan mati sia-sia karena mencoba. Atau, setidaknya ia sempat pamit sebelum Brage kehilangan akalnya.

Brage.

Lagunya.

Musiknya.

Gelang titaniumnya.

Dagny merasa Brage adalah gelang titaniumnya sekarang.

Posesif.

Obsesif.

Dua tahun lalu, Dagny gagal menyelamatkan saudara kembarnya dari kegilaan abadi.

Satu tahun lalu, ia berbaring bersama saudara kembarnya, yang menyanyikannya lagu tidur.

Dan hari ini, darah kering melapisi permukaan kotak kayu nomor tiga puluh dua tempat mereka tinggal.

Sialan!

Dagny menarik keluar ponselnya dan melemparnya hingga mendarat tepat di depan pintu ‘rumah’ mereka. Ponselnya bergetar dan berputar, sebelum memproyeksikan adegan yang paling ia takuti dalam hidupnya.

Brage, dengan darah mengucur dari hidungnya dan mata kiri yang bengkak diseret keluar oleh dua orang yang mengenakan jaket militer. Dia dilempar dan kepalanya menghantam struktur beton yang tertutup salju. Seseorang dari para penyerang itu mengeluarkan pistol keluaran terbaru perusahaan senjata yang paling berpengaruh di dunia.

Ini dendam! Hati Dagny menggeram dan ia membuang ludah. Baru tiga bulan berlalu semenjak ia ditugaskan membunuh direktur perusahaan itu beserta seluruh keluarganya. Tugasnya sukses. Pekerjaannya bersih. Dan siapa yang telah datang kesini untuk membawa Brage?!

“Oh, si dewi perang telah datang!”

Suara itu terdengar dan proyeksi dari ponsel Dagny langsung mati. Pelan dan monoton, namun terdengar jelas. Mata Dagny melotot tak percaya saat sosok tinggi itu muncul dari dalam kotak kayunya.

“ØDELEGG!” seru Dagny marah sambil melemparnya dengan pisau-pisau kecil yang selalu ia sembunyikan di pergelangan tangannya. Senjata andalannya. Senjata yang selalu ia pakai untuk membunuh.

“Ødelegg hanya julukan,” pria berambut hitam itu menatapnya. “Namaku Fritjof.”

“Kamu kira aku peduli?!” Dagny berseru lagi sambil menarik pisau-pisau yang telah ia lempar lalu melemparnya ke arah Fritjof, yang dengan cekatan menghindar.

“Oh, pisau-pisaumu terhubung oleh sinar laser ke alat yang ada di tanganmu,” gumam Fritjof, mata cokelatnya mengkilat berbahaya.

Dagny tak mempedulikannya dan terus melemparkan pisau-pisaunya ke arah Fritjof. Ia tahu ini bukan strategi yang baik, tetapi ia terlalu marah untuk berpikir. Dimana Brage?

Dimana dia?

“Kamu membunuh pemimpin kami dan ekonomi dunia agak hancur karena itu,” Fritjof berkata, sambil menghindar pisau-pisau Dagny. “Aku disini untuk membalaskan dendamku. Anak perempuannya masih dua tahun, dan dia menyaksikan semua pembunuhan itu! Ini mungkin terdengar aneh bagi seorang pembunuh bayaran sepertiku mengatakannya, tetapi anak sekecil itu seharusnya tidak menyaksikan hal sebrutal itu!”

“Aku tidak peduli pada gangguan moral anak itu!” Dagny melompat ke struktur beton di atasnya dan melompat berputar sambil menyerang Fritjof. “Mana Brage?!”

“Ah, pemuda yang mirip denganmu?”

Dagny mendarat di depan Fritjof dan menyerangnya dari dekat, pisaunya membentuk garis horizontal dari telinga ke telinga Fritjof.

Namun, pria itu tetap tidak bereaksi atau membalas serangan Dagny. Malah, dia menarik sesuatu dari belakangnya dan melemparnya ke belakang Dagny.

“BRAGE!” Dagny berlari menghampirinya.

Pemuda itu batuk, lalu tersenyum kecil mendengar suara saudara perempuannya. Dengan susah payah, dia menyanyikan lagu yang sama yang dia mainkan di Bar Død Soldat dua tahun lalu, lagu sebelum ia terseret ke ujung kegilaannya. Dagny menangis makin kencang. Dia memang seorang musisi, tetapi kenapa dia harus menyanyikan komposisi itu sekarang, saat babak belur seperti ini?

“Skak mat, dewi perang.”

Suara berbisik Fritjof dan tembakan pistol lasernya menandai akhir musisi dan matematikawan handal bernama Brage ini.

Konon, ada sebuah rumah yang nyaris rubuh di ujung lantai bawah Mindretall. Di siang hari, rumah itu sepi tak berpenghuni. Namun, malam datang dan seorang wanita masuk ke dalam rumah bobrok itu. Tangan kirinya menarik seutas tali yang mengaitkan enam pisau kecil berlumur darah kering. Tangan kanannya selalu melambai, seperti orang yang mencoba membuka sistem keamanan canggih yang dilindungi oleh kode gestur tubuh.

Di malam hari, terdengar lagu yang dinyanyikan asal, dengan suara tinggi yang sangat fals.

Tetapi, para pelanggan Død Soldat mengenali lagu itu sebagai lagu terakhir yang dimainkan si pemuda cemerlang dari Mindretall.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s