Makhluk

“Kamu bukan kamu,” gumam anak lelaki itu. “Kamu bukan dirimu. Kamu dan Makhluk yang kukenal dulu adalah dua entitas berbeda, tetapi kalian bersemayam dalam tubuh yang sama. Kamu dan dia tidak ditakdirkan untuk hidup berdampingan di dunia itu. Satu hidup, satu mati. Atau sebaliknya. Atau dua-duanya mati.”

Terdengar geraman yang sangat dalam dari dalam gua di hadapan anak lelaki itu. Mulut gua yang terbuka lebar menjadi instrumen yang memainkan nada-nada mengerikan dari angin yang berhembus di Pegunungan Barat. Apapun yang ada di dalam gua itu tak terlihat dari luar. Sinar malam tak menembus gelap pekat yang melingkupi interior gua.

“Kamu bukan kamu,” ulang anak lelaki itu.

Ia mengangkat kedua tangannya dan mulai menggerakkan jari-jarinya dengan lincah di udara. Seolah ia sedang memainkan piano yang kasat mata. Setiap jari-jarinya mengetuk udara kosong, serpihan es muncul dari kuku-kukunya dan turun ke tanah, bagai salju. Dan setiap jari-jarinya mengetuk nada-nada itu, sebuah bunyi terdengar.

Geraman dari dalam gua terdengar makin kencang. Makin lama, geraman itu terdengar seperti sebuah raungan yang sangat rendah. Rendah namun kencang. Mata hijau anak lelaki itu menyapu seisi gua yang terlihat hitam dari luar. Seolah ia bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.

Lagu lembut yang terdengar seperti lagu pengantar tidur itu membuat makhluk di dalam gua marah.

Anak lelaki itu mengulum senyum. Ia terus bermain di tengah tiupan angin kencang Pegunungan Barat. Lagunya bergema di lembah-lembah yang dibatasi gunung-gunung di tempat ini.

– – –

Hujan turun rintik-rintik di kota Arena. Orang-orang berlarian panik mencari tempat berteduh, sepatu kulit mereka menapak pasir basah yang lembut. Hujan ini bukan hujan air biasa, melainkan hujan air bercampur racun. Tetes-tetes awal memang tidak mengandung racun, namun setelah beberapa saat air itu akan turun bersama racun, melelehkan kulit mereka yang tidak berlindung.

Fenomena ini tidak pernah terjadi hingga beberapa tahun sebelumnya. Banyak yang berkata Arena itu terkutuk. Ada yang mencurigai keberadaan Makhluk di Arena. Sedikit yang merasa optimis, yang merasa bahwa ini hanya badai yang akan berlalu suatu hari.

Di antara mereka yang berlarian mencari perlindungan, seorang anak lelaki tetap berjalan tenang, dengan kepala sedikit menunduk. Jubah berwarna krem kusam yang ia pakai menyapu tanah becek yang ia tapak, sementara tetes air hujan, yang kini mulai bercampur racun, membasahi rambut pendeknya.

Orang-orang yang berlindung hanya menatapnya ngeri, ada yang berteriak memanggilnya untuk segera ikut berlindung, walau tidak ada yang berani menghampiri dan menyeretnya. Dalam diam dan takut, kini mereka memandangnya. Tubuhnya akan meleleh, mereka semua berpikir.

Dia mengangkat kedua tangannya dan mulai menggerakkan jari-jarinya seolah sedang memainkan piano. Setiap ia mengetuk satu nada, serpihan es terbentuk di ujung kukunya, lalu jatuh. Lagu yang ia mainkan seperti sebuah lagu pengantar tidur.

Lagu itu seolah membuat marah langit, sebab hujan turun makin deras. Air yang mengguyur tidak lagi berwarna jernih, tapi berwarna hijau kecoklatan. Seluruh tubuhnya basah kuyup, tetapi ia terlihat seolah tak terpengaruh oleh tingginya kadar racun dalam hujan itu.

“Makhluk..” desah seseorang yang berteduh. Semua yang berteduh dan menyaksikan kejadian ini berpikir hal yang sama.

Ini adalah Makhluk, entitas hidup yang bisa berpikir dan bertindak layaknya Manusia, dan kadang penampilannya juga seperti Manusia. Makhluk adalah entitas yang dulu tinggal di permukaan dunia ini, namun eksistensi mereka digantikan Manusia. Mereka ada untuk menghapus Manusia dari dunia, agar mereka bisa kembali hidup seperti dulu.

Anak lelaki itu berhenti bermain lalu menggerakkan lengannya dari kiri ke kanan, seolah menarik sesuatu secara paksa. Butiran-butiran es yang jatuh dari kukunya berkumpul di tangannya.

Makhluk itu menampakkan dirinya. Tubuhnya adalah gumpalan awan dan air, berukuran lima kali lebih besar dari si anak lelaki. Tak jelas anatominya. Tetapi Makhluk itu berusaha menelan si anak lelaki, membentuk sebuah pusaran angin di badannya dan merendahkan dirinya hingga mendekati tanah.

Anak lelaki itu tetap tenang. Gumpalan es di tangannya berubah bentuk menjadi tombak. Makhluk itu menyerang si anak lelaki dengan menyemburnya dengan racun, sambil mendekati mulutnya ke tubuh si anak.

Ia melompat masuk ke dalam mulut si Makhluk.

Hujan racun berhenti seketika, namun para penduduk Arena tidak ada yang berani mendekati si Makhluk untuk tahu apa yang terjadi. Mereka menahan nafas. Anak lelaki itu telah mati ditelan si Makhluk.

Dugaan mereka salah, tentu saja. Si anak terlalu kuat untuk dikalahkan semudah itu. Awan itu membeku, dan muncul sayatan berwarna putih dari dalam awan. Tak lama, Makhluk itu pecah, seolah dia terbuat dari es. Si anak lelaki melompat dari dalam tubuh si Makhluk tepat saat dia pecah, tombak esnya masih di tangannya.

Dan tidak ada yang berani mendekatinya, sebab mereka tahu bahwa anak ini bukanlah Manusia biasa.

Kecuali seorang pria.

“Aku tidak menyangka akan bisa menyaksikan pertunjukan sehebat ini,” ia berkata, sambil berjalan mendekati si anak. Rambut pirangnya yang dikuncir mengayun seiring langkah yang ia ambil. “Kamu adalah Manusia pertama yang bisa mengalahkan Makhluk yang tidak memilik bentuk tubuh yang pasti. Dan mereka adalah jenis Makhluk yang paling sulit dikalahkan.”

Si rambut pirang berhenti berjalan saat si anak mengarahkan ujung tombaknya ke lehernya.

“Kamu adalah Makhluk yang aku cari,” desis si anak.

“Kamu adalah Manusia yang menarik,” si rambut pirang menyeringai. “Namaku Adrian, dan jika kamu ingin membunuhku, kamu harus melakukannya di satu tempat.”

“Bagaimana aku tahu kalau ini bukan jebakan?” si anak balik bertanya.

“Oh, tentu saja bukan,” Adrian mengedip. Ia lebih tinggi daripada si anak lelaki, yang tingginya hanya sebatas bahu Adrian. “Aku sudah lama ingin hilang dari dunia ini. Tapi kamu tidak akan bisa membunuhku disini. Ikut denganku dan aku akan membawamu ke tempat itu.”

“Bagaimana aku tahu kalau ini bukan jebakan?” si anak lelaki mengulangi pertanyaannya.

“Kamu adalah Alastor, Manusia yang dikutuk dengan jiwa abadi dalam tubuh yang masih berusia tiga belas tahun. Kamu tidak mungkin bisa dibohongi oleh Makhluk sepertiku.”

– – –

Adrian berdiri menyandarkan dirinya pada sebuah batu besar, sementara Alastor duduk di atas batu besar itu. Mereka berdua hanya diam saja, menonton matahari terbenam di horizon. Lautan pasir terbentang luas di hadapan mereka, dan malam dingin menanti. Alastor sudah mulai menggigil di balik jubah kulitnya, sebab ia tak tahan dingin.

“Kenapa kamu ingin membunuhku?”

“Karena kamu adalah dua jiwa dalam satu tubuh.”

– – –

Alastor menghentikan permainan musiknya lalu menarik sebuah pedang es dari udara kosong. Ia berlari maju menembus terpaan angin kencang macam badai. Ia sampai di ujung sebuah jurang dan melompat tinggi, menebas pedangnya dari atas kebawah.

Udara seolah membeku, lalu pecah. Makhluk itu berhasil dikalahkan.

Ia jatuh ke jurang di bawahnya. Alastor menancapkan pedangnya di dinding tebing, dan pelan-pelan menaiki tebing itu hingga sampai di permukaannya. Sekali ia mengubah bentuk gumpalan esnya, ia tidak bisa mengubah bentuknya lagi sampai ia menghasilkan butiran es baru.

Di permukaan, ia melihat Adrian meringkuk dan gemetar, seolah ia kesakitan. Tetapi ia tidak mengeluarkan bunyi apapun, tidak juga rintihan pelan. Alastor berdiri di hadapannya sambil mencengkeram pedangnya, agar butiran-butiran es itu kembali masuk ke dalam badannya.

“Sepertinya jiwa lain yang bersemayam dalam tubuhmu itu tak sabar ingin keluar,” ujarnya.

Adrian terlalu kesakitan untuk menjawab.

Alastor hanya duduk di hadapannya, dan berbaring. Pegunungan Barat sudah terlihat di horizon.

– – –

Alastor menghentikan permainan musiknya. Terdengar dentuman keras dari dalam gua. Makhluk di dalam gua itu sedang melangkah keluar. Sepertinya dia tidak senang dengan permainan musik Alastor.

Anak lelaki itu juga tidak terlalu senang dengan musik yang ia mainkan.

– – –

“Musik itu.. darimana kamu mendapatkannya?” Adrian bertanya, sementara ia menonton Alastor berjemur di bawah sinar matahari di pinggir sebuah danau di kaki Pegunungan Barat.

“Seorang gadis memainkannya dengan serulingnya, tetapi dia dimakan oleh seekor Makhluk. Aku suka dengan gadis itu, jadi aku memutuskan untuk mengenangnya dengan memainkan lagu itu dengan piano.”

“Kamu mengenangnya dengan memainkan lagu itu untuk membunuh Makhluk?”

“Dia mati karena Makhluk. Wajar kalau para Makhluk mati karena lagunya.”

– – –

Makhluk ini berbentuk reptil dengan enam kaki, yang seluruh tubuhnya ditutupi bulu berwarna kuning keemasan. Kepalanya sebesar mulut gua dimana dia bersemayam, dan seluruh tubuhnya bisa tiga puluh kali lebih besar daripada Alastor.

Alastor menarik butiran-butiran esnya dan membentuk dua buah pedang. Ia siap melawan Makhluk yang kini menempel di dinding gunung dimana mereka berada. Makhluk itu meraung kencang, cukup kencang hingga salju di puncak gunung-gunung terdekat longsor.

Anak lelaki itu berlari ke arah si Makhluk, berusaha menebasnya dengan kedua pedangnya. Meski tubuhnya raksasa, gerakannya gesit.

Si Makhluk melompat ke dinding gunung di sebelah gunung tempat mereka berada dan membuka mulutnya. Setitik sinar kuning berkumpul di dalam mulutnya, dan tumbuh besar, hingga menyembur keluar dan menghancurkan dinding gunung di hadapannya.

Makhluk itu menggerakkan kepalanya dan mengikuti kemanapun Alastor pergi. Anak itu hanya berdiri diam dan bersiap. Saat serangan itu mengenainya, ia menahannya dengan kedua pedangnya, namun ia terseret ke belakang hingga jatuh ke sebuah jurang.

Alastor menancapkan pedangnya ke tebing dan menahan dirinya agar tidak jatuh. Makhluk itu ternyata mengikutinya, dan saat Alastor melihat ke atas, makhluk itu sedang membuka mulutnya, dengan sinar yang sama.

Ia melempar satu pedangnya ke dalam mulut Makhluk itu. Pedangnya menembus moncongnya. Makhluk itu berguling kesakitan, raungannya memekakkan telinga. Dia terus berguling hingga jatuh ke dalam jurang dimana Alastor nyaris kehilangan nyawanya.

Alastor dengan susah payah memanjat tebing itu. Di atas, di hadapan gua yang kini kosong, ia duduk di tanah dan merobek lengan kanan tuniknya. Sebagian dagingnya terbakar oleh sinar dari Makhluk tadi, membuat sedikit tulangnya terlihat.

Anak lelaki itu hanya menggeram kesakitan, dan ia menyerap kembali butiran es dari pedang esnya. Butiran-butiran es itu menyembuhkan luka di lengan kanannya, membuatnya utuh seperti semula.

Dari dasar jurang, Alastor bisa mendengar suara raungan, tetapi raungan kali ini berbeda. Ia mengenal raungan ini.

Ini adalah raungan salah satu jiwa Adrian.

Adrian adalah Makhluk berbulu kuning yang telah ia kalahkan, Makhluk kelas rendah yang gampang dikalahkan dan telah lama ingin hilang dari dunia.

Adrian juga adalah Makhluk yang dahulu menyantap gadis yang menciptakan lagu yang selalu Alastor mainkan.

Alastor berdiri dan mulai memainkan lagu itu lagi.

Ia mengundang Makhluk itu untuk naik dan menghadapinya dalam sebuah pertarungan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s